IntelijenNews.com – Makassar, Banyak petani mengeluhkan ketidaknyamanan fisik, seperti sakit punggung akibat harus membungkuk lama, serta pemborosan pupuk yang digunakan secara berlebihan, Selasa (4/2/2025).
Hal ini menjadi dasar bagi Jusneni untuk merancang alat yang tidak hanya ergonomis, tetapi juga efisien dalam penggunaan pupuk.
Mahasiswa KKN Universitas Hasanuddin Gelombang 113 yang dipimpin oleh Jusneni mengadakan sosialisasi dan pelatihan pembuatan alat pemupuk sederhana berbahan pipa dan botol plastik bekas pada 17 Januari 2025.
Kegiatan yang berlangsung pada 16-17 Januari 2025 di dua lokasi, yaitu Rumah Kepala Dusun Polewali dan rumah warga di Bela-Belawa, bertujuan untuk membantu petani meningkatkan efisiensi pemupukan serta mengurangi penggunaan pupuk berlebihan yang sering terjadi dalam pemupukan manual.
Pada pelatihan ini, Jusneni selaku penanggung jawab,menjelaskan kepada petani cara membuat alat pemupuk sederhana yang berbahan dasar barang bekas.
“Alat ini dirancang untuk memudahkan petani dalam melakukan pemupukan, mengurangi ketegangan tubuh, dan mengoptimalkan penggunaan pupuk,” ungkap Jusneni.
“Alat pemupuk sederhana ini menggunakan bahan bekas seperti pipa PVC, botol plastik, karet, dan baut. Dengan bahan yang mudah didapat dan biaya yang rendah, alat ini sangat terjangkau bagi petani di desa ini,” jelas Jusneni.
Latar Belakang
Penggunaan pupuk yang berlebihan dan ketidaknyamanan fisik dalam proses pemupukan adalah masalah umum yang dihadapi oleh banyak petani di Desa Polewali.
Hal ini tidak hanya berdampak pada hasil pertanian yang kurang optimal, tetapi juga berisiko menimbulkan masalah kesehatan bagi petani yang bekerja dalam posisi tubuh yang tidak ergonomis.
Melalui program pelatihan ini, mahasiswa KKN berupaya memberikan solusi praktis yang dapat membantu petani bekerja lebih efisien dan nyaman.
Pelatihan pembuatan alat pemupuk sederhana ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi petani di Desa Polewali. Dengan alat yang mudah dibuat dan biaya rendah, diharapkan petani dapat meningkatkan hasil pertanian mereka dengan lebih efisien dan ramah lingkungan.
“Semoga inovasi ini bisa membantu petani bekerja lebih nyaman dan memperoleh hasil pertanian yang optimal,” tambah Jusneni.
Program ini menjadi contoh nyata bagaimana kreativitas dan pemanfaatan bahan bekas dapat memberikan solusi atas tantangan yang dihadapi petani. (*)
Rd

