INTELIJENNEWS.COM, Mateng – Isu seorang anggota DPRD Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng) yang dikabarkan terjaring razia dalam Operasi Pekat Marano 2025 mendadak viral di media sosial.
Kabar ini menyebar luas melalui grup WhatsApp dan platform media online serta Facebook memicu berbagai spekulasi di tengah masyarakat.
Operasi yang digelar oleh Polres Mateng pada Selasa, 11 Maret 2025 malam itu melibatkan pemerintah Daerah, diantaranya Dinas Sosial dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).
Razia dilakukan di sejumlah wisma di Topoyo, di mana petugas menemukan lima orang, terdiri dari dua laki-laki serta tiga perempuan. Salah satu dari mereka disebut-sebut sebagai anggota DPRD aktif Mateng.
Menanggapi isu Tersebut, Badan Kehormatan (BK) DPRD Mateng langsung mengambil langkah dengan menggelar Sidang Etik untuk memperoleh keterangan lebih jelas dari yang bersangkutan, agar informasinya tidak bias di masyarakat
Wakil Ketua BK DPRD Mateng, Ilham Yunus, bersama timnya melakukan langkah sesuai prosedur kedewanan. Dengan meminta klarifikasi langsung dari yang bersangkutan.
Dari hasil klarifikasi yang dilakukan, ditemukan sejumlah fakta bahwa informasi yang beredar di sosial media, tidak sepenuhnya benar adanya berdasarkan pengakuan yang bersangkutan.
“Hasil klarifikasi kami menunjukkan bahwa informasi yang beredar tidak sepenuhnya benar. Yang bersangkutan tidak melanggar kode etik,” tegas Ilham Yunus usai melaksanakan sidang etik di ruang BK DPRD Mateng, Rabu, 12 Maret 2025.
Ilham menjelaskan bahwa anggota DPRD tersebut memang benar berada di wisma saat sedang razia tetapi bukan dalam konteks negatif atau mencurigakan.
“Saat razia berlangsung, beliau sedang menemani temannya (Daeng Mangalla) mengunjungi keluarga temannya yang kebetulan menginap di sana. Pintu kamar juga dalam keadaan terbuka,” jelasnya.
Ia memastikan bahwa tidak ada unsur pelanggaran dalam kejadian ini.
“Setelah kami dalami, tidak ada alasan bagi BK untuk memberikan teguran kepada yang bersangkutan,” tambah Ilham.
Pihaknya mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh berita yang belum terverifikasi kebenarannya.
“Kejadian ini menjadi pengingat bagi semua pihak untuk lebih berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan informasi,” imbuhnya
(HMS)