INTELIJENNEWS.COM, Denpasar – Bali tengah dilanda gelombang tragedi yang memilukan. Dalam rentang waktu kurang dari sebulan, tiga anggota aparat keamanan—dua dari kepolisian dan satu dari TNI—mengakhiri hidup mereka sendiri. Rentetan kejadian ini bukan sekadar kabar duka, tetapi juga alarm keras yang menuntut perhatian lebih serius terhadap kondisi mental para penjaga keamanan negeri.
Kasus pertama terjadi di Buleleng pada akhir Februari. Serka INS (48), seorang prajurit Denpal IX/3 Singaraja, ditemukan tewas dengan luka tembak di bengkel senjata. Kepergiannya yang mendadak mengundang tanda tanya besar, mengingat ia dikenal sebagai prajurit disiplin tanpa catatan masalah. Kodam IX/Udayana segera membentuk tim investigasi untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik keputusan tragis ini.
Namun, duka tak berhenti di situ. Beberapa hari kemudian, kejadian serupa mengguncang Badung. Aipda AES (42), anggota Bidpropam Polda Bali, ditemukan tewas di bawah Jembatan Tukad Bangkung, Desa Pelaga. Dugaan sementara menyebutkan ia melompat dari ketinggian puluhan meter. Yang lebih mengiris hati, di dalam mobilnya ditemukan surat wasiat yang ia tinggalkan untuk sang istri. Dalam surat itu, terselip permohonan maaf dan kalimat memilukan, “Perjuangkan keadilan.” Apa yang ia maksud? Mengapa ia merasa harus meninggalkan dunia dengan cara seperti ini?
Belum habis keterkejutan masyarakat, di hari yang sama, seorang pensiunan polisi, Ketut S (61), ditemukan tewas gantung diri di kamar mandi rumahnya di Desa Yeh Kuning, Jembrana. Motifnya masih menjadi misteri, tetapi kejadian ini semakin menguatkan dugaan bahwa ada tekanan besar yang dihadapi oleh para aparat, baik yang masih aktif bertugas maupun yang telah pensiun.
Mengapa dalam waktu singkat tiga anggota aparat memilih jalan yang sama? Apakah ini kebetulan, atau ada sesuatu yang lebih besar yang belum terungkap?
Para pakar kesehatan mental memperingatkan bahwa tekanan dalam institusi keamanan bisa sangat besar. Tuntutan tugas yang tinggi, ekspektasi tanpa henti, dan minimnya ruang untuk mengungkapkan beban psikologis dapat menjadi bom waktu. Sayangnya, stigma terhadap kesehatan mental masih kuat, membuat banyak anggota enggan mencari pertolongan hingga akhirnya memilih jalan yang tak terduga.
TNI dan Polri harus segera bertindak. Program dukungan psikologis harus diperkuat, akses ke konseling harus dibuka tanpa rasa takut akan stigma, dan budaya saling mendukung harus ditanamkan di setiap lini. Jangan sampai tragedi ini terus berulang, meninggalkan duka bagi keluarga, institusi, dan masyarakat luas.
Rentetan kasus bunuh diri di Bali ini adalah panggilan untuk semua pihak. Jika kita masih mengabaikan kesehatan mental para penjaga negeri, berapa lagi nyawa yang harus melayang sebelum kita benar-benar bertindak? (SN17)
Tim intelijen news FR