Arung PJejak Sejarah Arung Palakka di Sulsel: Pejuang Bugis dan Wilayah Peperangannya

Arung PJejak Sejarah Arung Palakka di Sulsel: Pejuang Bugis dan Wilayah Peperangannya

SUL-SEL, Intelijennews.com., – Arung palakka, salah satu tokoh penting dalam sejarah Sulawesi Selatan, dikenal sebagai bangsawan Bugis yang berperan besar dalam perang melawan Kesultanan Gowa pada abad ke-17. Namanya tercatat dalam sejarah sebagai pemimpin suku Bone yang memperjuangkan kemerdekaan dari dominasi Gowa, salah satu kerajaan terbesar di Sulsel kala itu.

 

Arung Palakka lahir sekitar tahun 1634 di Kerajaan Bone, salah satu kerajaan Bugis yang saat itu berada di bawah tekanan politik dan militer dari Kesultanan Gowa yang dipimpin oleh Sultan Hasanuddin. Ketegangan antara Bone dan Gowa semakin meningkat setelah Gowa memaksa beberapa kerajaan Bugis, termasuk Bone, untuk tunduk melalui kekuatan militer.

 

Pada tahun 1660-an, setelah mengalami kekalahan dan penindasan, Arung Palakka bersama sejumlah pengikutnya melarikan diri ke Batavia (sekarang Jakarta) dan kemudian menjalin aliansi dengan VOC (Belanda) yang saat itu sedang berseteru dengan Kesultanan Gowa.

 

Konflik besar antara Arung Palakka dan Kesultanan Gowa memuncak dalam Perang Makassar (1666–1669), salah satu perang terbesar di tanah Bugis-Makassar. Berikut beberapa wilayah penting dalam jalannya peperangan:

 

Makassar: Kota pusat Kesultanan Gowa, menjadi titik utama pertempuran. Benteng Somba Opu menjadi lokasi strategis yang akhirnya dihancurkan oleh pasukan gabungan VOC dan Arung Palakka.

 

Benteng Ujung Pandang (sekarang Benteng Fort Rotterdam): Diambil alih VOC dan dijadikan pusat kekuasaan baru di Makassar.

 

Bone dan wilayah Bugis lainnya: Menjadi basis kekuatan Arung Palakka. Dari sini ia mengatur strategi dan menggalang kekuatan lokal.

 

Wilayah pesisir Sulsel: Jalur logistik dan pendaratan pasukan VOC serta jalur pergerakan militer Arung Palakka.

 

Perang berakhir pada tahun 1669 dengan kekalahan Kesultanan Gowa. Sultan Hasanuddin dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya, yang isinya menguntungkan VOC dan memulihkan kemerdekaan kerajaan-kerajaan Bugis. Arung Palakka kemudian menjadi Raja Bone dan tokoh penting dalam struktur kekuasaan di Sulawesi Selatan.

 

Namun, masa pemerintahannya juga diwarnai kontroversi karena dinilai keras dan represif terhadap pendukung Gowa yang masih menentang kekuasaannya.

 

Hari ini, Arung Palakka dikenang sebagai tokoh pejuang kemerdekaan Bugis dari dominasi Gowa, namun juga dianggap kontroversial karena kerja samanya dengan VOC. Dalam banyak diskusi sejarah, ia digambarkan sebagai sosok kompleks: seorang pahlawan sekaligus sekutu kolonial.

Penulis : M Yusuf.,

Tinggalkan Balasan