Klarifikasi Dinas Kesehatan Aceh Barat Terkait Dugaan Keterlambatan Penanganan Pasien Sesak Napas di Suak Seumaseh.

Klarifikasi Dinas Kesehatan Aceh Barat Terkait Dugaan Keterlambatan Penanganan Pasien Sesak Napas di Suak Seumaseh.

INTELIJENNEWS, ACEH BARAT — Menanggapi sorotan publik atas meninggalnya seorang warga Desa Suak Seumaseh, Kecamatan Samatiga, akibat sesak napas berat pada Minggu malam, 19 Oktober 2025, Kepala Dinas Kesehatan Aceh Barat, Cut Hasanuddin, memberikan penjelasan resmi kepada Tim Intelijennews melalui konfirmasi WhatsApp.

Peristiwa tersebut sempat viral di media sosial dan memicu keprihatinan masyarakat terkait dugaan keterlambatan penanganan serta kendala teknis pada tabung oksigen ambulans. Untuk menghindari kesalahpahaman, berikut kronologis kejadian berdasarkan keterangan langsung dari Kepala Dinas Kesehatan dan pihak terkait:

Kronologis Kejadian :

– Permintaan Jemputan Tanpa Informasi Darurat
Pada malam kejadian, keluarga pasien meminta ambulans dari Puskesmas Drien Rampak untuk menjemput ke Suak Seumaseh tanpa menyampaikan kondisi pasien secara rinci. Wilayah tersebut berada di Kecamatan Samatiga, bukan dalam cakupan langsung Puskesmas Drien Rampak. Sopir ambulans sempat menyarankan agar keluarga menghubungi Puskesmas Cot Semereng, namun permintaan tetap dilanjutkan.

– Tenaga Medis Sedang Bertugas di IGD dan Rawat Inap
Saat itu, perawat sedang menangani 10 pasien rawat inap dan satu kasus kecelakaan di IGD. Karena tidak ada informasi bahwa pasien dalam kondisi gawat darurat, ambulans diberangkatkan hanya dengan sopir.

– Permintaan Oksigen di Tengah Perjalanan
Di tengah perjalanan, sopir menerima telepon lanjutan dari keluarga yang menyebutkan bahwa pasien mengalami sesak napas. Ambulans yang digunakan telah dilengkapi tabung oksigen yang masih berisi cukup untuk perjalanan dari Suak Seumaseh ke Puskesmas.

– Penggunaan Oksigen di Rumah Pasien
Setelah tiba di rumah, keluarga meminta agar oksigen diturunkan dan digunakan terlebih dahulu sebelum pasien dibawa. Oksigen digunakan selama sekitar 15 menit di rumah, sebelum pasien akhirnya dinaikkan ke ambulans.

– Permintaan Langsung ke RS Ditolak
Keluarga meminta agar pasien langsung dirujuk ke RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh, namun sopir menjelaskan bahwa prosedur rujukan harus melalui pemeriksaan di Puskesmas terlebih dahulu. Ambulans melaju dengan kecepatan tinggi dalam kondisi hujan lebat.

– Oksigen Diduga Habis di Tengah Jalan
Di tengah perjalanan, tepatnya di Desa Suak Geudubang, aliran oksigen diduga terhenti. Sopir menyebutkan bahwa oksigen kemungkinan habis karena telah digunakan sebelumnya di rumah pasien. Pasien tetap dibawa ke Puskesmas untuk pemeriksaan lebih lanjut, namun dinyatakan meninggal dunia saat tiba di Desa Peuribu.

Klarifikasi Puskesmas Drien Rampak :

Kepala Puskesmas Drien Rampak, Sri Wahyuni, membenarkan bahwa ambulans dikirim malam itu tanpa pendamping tenaga medis karena tidak ada informasi bahwa pasien dalam kondisi gawat darurat. Ia menegaskan bahwa dalam kasus darurat, pihaknya selalu mengirim tim medis lengkap.

Staf IGD juga menyampaikan bahwa Puskesmas sering menerima pasien dari luar wilayah kerja, termasuk Teunom dan Woyla, meski dengan keterbatasan tenaga. Pada malam kejadian, hanya empat perawat yang bertugas dan sedang menangani pasien lain.

Seruan Evaluasi Sistem Layanan Kesehatan Darurat :

Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai standar operasional penanganan pasien gawat darurat di wilayah pedesaan, khususnya terkait:

– Ketersediaan tenaga medis pendamping ambulans
– Kelayakan teknis peralatan ambulans
– Prosedur rujukan dan komunikasi antar fasilitas kesehatan

Forum Rakyat mendesak agar dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem layanan kesehatan darurat di Aceh Barat. Tragedi ini harus menjadi titik balik bagi perbaikan sistem, agar nyawa warga tidak lagi dipertaruhkan akibat kelalaian sistemik.

Tim Intelijennews.

Tinggalkan Balasan