INTELIJENNEWS, PIDIE JAYA —
Bupati Aceh Barat, Tarmizi, SP, MM, menghadiri langsung acara Penutupan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Ke-37 Tingkat Provinsi Aceh yang digelar di Kabupaten Pidie Jaya. Kehadiran beliau menjadi bentuk dukungan nyata terhadap pengembangan syiar Islam dan pembinaan generasi Qur’ani di Aceh.
Dalam sambutannya, Bupati menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh peserta, pelatih, panitia, dan tim pendukung yang telah bekerja keras demi suksesnya pelaksanaan MTQ tahun ini.
Selamat kepada seluruh peserta yang mendapatkan penghargaan dan menjadi juara. Terima kasih atas kesungguhan dan kerja keras semua pihak, baik peserta, pelatih, panitia, maupun tim pendukung yang sudah berjuang sejak awal,” ujar Bupati Tarmizi.
Meski kafilah Aceh Barat belum berhasil menembus 10 besar, Bupati menegaskan bahwa hasil tersebut bukan alasan untuk berkecil hati. Ia mengajak seluruh elemen untuk menjadikan pengalaman tahun ini sebagai pijakan evaluatif menuju MTQ berikutnya yang akan digelar di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya).
Tidak apa-apa, walaupun kita belum masuk 10 besar. Mari kita persiapkan diri lebih baik lagi untuk MTQ selanjutnya. Insya Allah, kalau kita bersatu dengan niat dan semangat yang sama, kita pasti bisa,” tegasnya.
Bupati juga menekankan pentingnya menjaga solidaritas dan menghindari saling menyalahkan. Menurutnya, seluruh proses persiapan telah dilakukan secara maksimal sejak tahun 2024, dan setiap peserta serta pelatih telah menunjukkan dedikasi tinggi.
Kita harus melakukan evaluasi menyeluruh. Dinas terkait, LPTQ, dan seluruh panitia harus berbenah mulai dari proses seleksi yang terbuka dan profesional, hingga pembinaan yang melibatkan tenaga ahli dan pihak yang kompeten,” tambahnya.
Dalam forum tersebut, Bupati turut menjelaskan alasan mengapa Aceh Barat belum dapat menjadi tuan rumah MTQ tingkat provinsi. Ia menyebut keterbatasan lokasi dan fasilitas representatif sebagai kendala utama.
Persoalan utama adalah tempat. Di Aceh Barat belum ada area yang luas dan strategis seperti di Pidie Jaya. Bahkan di sini saja yang luas masih ada yang protes karena di jalan terlihat bercampur antara laki-laki dan perempuan. Padahal itu hanya di area luar, seperti di pasar tidak mungkin dibuat pemisahan jalan khusus,” jelasnya.
Bupati menilai bahwa memaksakan diri menjadi tuan rumah tanpa kesiapan infrastruktur akan menimbulkan sorotan publik, terutama karena MTQ merupakan ajang keagamaan yang menuntut kehati-hatian dan kesesuaian dengan nilai-nilai syariat.
Kalau acara budaya masih bisa ditoleransi, tapi untuk MTQ yang bernuansa keagamaan tentu perlu kehati-hatian. Kita ingin semua berjalan dengan baik, nyaman, dan sesuai dengan nilai-nilai syariat,” tutupnya.
Di akhir pernyataan, Bupati Tarmizi mengajak seluruh masyarakat dan pemangku kepentingan untuk menjadikan MTQ Pidie Jaya sebagai momentum introspeksi bersama, demi peningkatan kualitas dan kesiapan Aceh Barat dalam ajang MTQ mendatang.
Tim Intelijennews.