Undang Wija To Luwu, Bahas Provinsi Luwu Raya: “Bola Panas” Kini di Tangan Gubernur Sulsel

Undang Wija To Luwu, Bahas Provinsi Luwu Raya: “Bola Panas” Kini di Tangan Gubernur Sulsel

PALOPO, Intelijennews.com  —      Aspirasi pembentukan Provinsi Luwu Raya kembali memasuki fase krusial. Setelah bertahun-tahun menjadi wacana dan tuntutan publik, kini Wija To Luwu menanti sikap tegas Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, yang dinilai memegang peran kunci dalam menentukan arah perjuangan pemekaran Tanah Luwu.

Harapan itu menguat setelah Gubernur Sulsel secara resmi mengundang empat kepala daerah se-Tanah Luwu, pimpinan DPRD, tokoh masyarakat dan tokoh adat, Kerukunan Keluarga Luwu Raya (KKLR), serta perwakilan mahasiswa IPMIL dalam pertemuan tertutup di Rumah Jabatan Gubernur, Kamis malam (29/1/2026).

Pertemuan tersebut secara khusus membahas aspirasi pembentukan Provinsi Luwu Raya, sebuah agenda besar yang selama ini terus diperjuangkan oleh berbagai elemen masyarakat Luwu—baik di daerah maupun di perantauan.

Sinyal Politik yang Dinanti
Langkah Andi Sudirman menginisiasi pertemuan lintas unsur itu dinilai sebagai sinyal politik yang kuat. Untuk pertama kalinya dalam waktu terakhir, isu Luwu Raya dibahas langsung di level tertinggi Pemerintah Provinsi Sulsel dengan menghadirkan representasi lengkap dari Tanah Luwu.

Tokoh Wija To Luwu, Baharman Supri, menilai undangan tersebut sebagai momentum strategis yang tidak boleh berhenti pada tataran dialog.
“Ini bukan sekadar pertemuan seremonial. Kami berharap Gubernur Sulsel mampu memposisikan diri sebagai jembatan integrasi antara aspirasi Wija To Luwu dan kebijakan nasional terkait pemekaran wilayah,” tegas Baharman.

Menurutnya, publik Luwu Raya kini menunggu keberanian dan ketegasan sikap politik pemerintah provinsi untuk membawa aspirasi tersebut ke tingkat pusat secara serius dan terstruktur.

Bola Panas di Tangan Gubernur
Baharman menekankan, setelah pertemuan ini, tanggung jawab moral dan politik mendorong Provinsi Luwu Raya berada di tangan Gubernur Sulsel. Dukungan gubernur dinilai akan menjadi faktor penentu apakah aspirasi tersebut terus berputar di ruang diskusi, atau benar-benar melaju ke meja pengambilan keputusan nasional.

“Bola panasnya sekarang ada di Pak Gubernur. Wija To Luwu sudah bersatu, pemerintah daerah siap, elemen masyarakat lengkap. Tinggal keberanian sikap di level provinsi,” ujarnya.

Lebih dari Sekadar Pemekaran
Pemekaran Tanah Luwu menjadi Provinsi Luwu Raya bukan hanya soal administrasi wilayah. Bagi masyarakat Luwu, ini adalah agenda strategis untuk percepatan pembangunan, pemerataan ekonomi kawasan utara Sulsel, serta penguatan identitas sejarah dan budaya Luwu yang memiliki akar panjang dalam perjalanan Nusantara.

Selama ini, luas wilayah, jarak pelayanan, serta ketimpangan pembangunan menjadi alasan utama menguatnya tuntutan provinsi baru. Dengan sumber daya alam dan potensi ekonomi yang besar, Luwu Raya diyakini mampu berdiri mandiri sebagai daerah otonom tingkat provinsi.

Kini, setelah undangan gubernur dan pertemuan strategis digelar, satu pertanyaan besar menggema di Tanah Luwu:

akankah momen ini menjadi titik balik sejarah, atau kembali menjadi harapan yang tertunda?

Wija To Luwu menunggu. Sulawesi Selatan menatap.
Dan keputusan besar itu—kini—berada di tangan Gubernur.

 

Redaksi 

Tinggalkan Balasan