Intelijen Nesw,Makassar – Tangis haru mewarnai penertiban pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Center Point of Indonesia (CPI), Kota Makassar, Rabu (10/6/2026).
Seorang pedagang perempuan tak mampu menahan air mata saat petugas mengamankan perlengkapan dagangannya yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarganya.
Dengan suara bergetar, pedagang tersebut memohon agar barang dagangannya tidak disita.
Ia mengaku terpaksa berjualan demi memenuhi kebutuhan keluarga, terlebih suaminya sedang sakit dan tidak dapat bekerja.
“Bukan ja pencuri kodong,” teriaknya sambil menangis di hadapan petugas yang melakukan penertiban.
Peristiwa tersebut menjadi sorotan masyarakat setelah videonya beredar di media sosial.
Banyak warganet menyampaikan rasa empati terhadap kondisi pedagang kecil yang menggantungkan hidup dari hasil berjualan di pinggir jalan.
Di sisi lain, pemerintah menegaskan bahwa penertiban dilakukan untuk menjaga ketertiban umum, kebersihan kawasan, serta memastikan penggunaan ruang publik sesuai aturan yang berlaku.
Meski demikian, kejadian ini kembali membuka diskusi mengenai pentingnya solusi yang lebih humanis dalam penataan PKL.
Sejumlah pihak berharap pemerintah tidak hanya melakukan penertiban, tetapi juga menyediakan lokasi usaha yang layak agar para pedagang tetap dapat mencari nafkah tanpa melanggar aturan.
Bagi para pedagang kecil, gerobak dan perlengkapan jualan bukan sekadar barang, melainkan harapan dan sumber kehidupan keluarga.
Di balik setiap lapak yang ditertibkan, ada cerita perjuangan masyarakat kecil yang berusaha bertahan di tengah tekanan ekonomi.
( Tim Redaksi )