KASUS MAUT MUSTAFA DAENG NGASI: KELUARGA BANTAH DAMAI, KASAT LANTAS DIDUGA TEKAN ANAK KORBAN  GOWA, IntelijenNews.com — Kasus kecelakaan lalu lintas yang menewaskan Mustafa Daeng Ngasi di Kabupaten Gowa semakin menjadi sorotan. Bukan hanya karena korban kehilangan nyawa, tetapi karena keluarga mempertanyakan serius penanganan perkara oleh pihak kepolisian.  Keluarga korban membantah keras pernyataan yang menyebut telah terjadi perdamaian antara keluarga korban dan pihak pelaku. Menurut keluarga, tidak pernah ada perdamaian sebagaimana yang disampaikan Kasat Lantas Polresta Gowa.  Bantahan tersebut disampaikan keluarga melalui video yang beredar pada Senin, 7 September 2026. Keluarga meminta agar proses hukum terhadap pihak yang diduga bertanggung jawab tetap berjalan secara transparan.  Persoalan kemudian semakin panas setelah Kasat Lantas Polresta Gowa disebut mendatangi kediaman keluarga korban. Dalam pertemuan tersebut, anak korban mengaku diminta agar tidak lagi membuat video atau menyampaikan persoalan kasus tersebut melalui media sosial.  «“Kasat Lantas mendatangi rumah saya dan meminta agar tidak membuat video lagi, namun saya juga meminta agar pelaku ditangkap.”»  Pernyataan tersebut menambah tanda tanya publik. Jika benar tidak pernah ada perdamaian, atas dasar apa narasi perdamaian tersebut disampaikan kepada publik?  Keluarga korban juga mempertanyakan mengapa pihak yang diduga terlibat dalam kecelakaan maut tersebut disebut tidak ditahan dan kendaraan yang terlibat juga dipersoalkan karena diduga tidak diamankan sebagaimana yang diharapkan keluarga.  Kini publik menunggu penjelasan yang lebih terbuka dari kepolisian.  Siapa sebenarnya yang menyatakan adanya perdamaian? Mengapa keluarga korban justru membantahnya? Mengapa anak korban mengaku diminta berhenti menyuarakan kasus tersebut? Dan apakah seluruh prosedur penanganan perkara telah dijalankan secara transparan?  Pertanyaan-pertanyaan itu kini menjadi sorotan.  Keluarga korban menegaskan tidak ingin kasus kematian Mustafa Daeng Ngasi berhenti hanya karena munculnya narasi perdamaian yang mereka bantah. Mereka meminta kepastian hukum, transparansi penyidikan, serta perlakuan yang adil tanpa keberpihakan kepada siapa pun.  Hingga berita ini diterbitkan, berbagai dugaan dan pernyataan tersebut masih perlu diklarifikasi secara resmi oleh pihak-pihak terkait. IntelijenNews.com mengedepankan asas praduga tak bersalah dan membuka ruang hak jawab bagi pihak kepolisian maupun pihak yang disebut dalam pemberitaan ini.

KASUS MAUT MUSTAFA DAENG NGASI: KELUARGA BANTAH DAMAI, KASAT LANTAS DIDUGA TEKAN ANAK KORBAN GOWA, IntelijenNews.com — Kasus kecelakaan lalu lintas yang menewaskan Mustafa Daeng Ngasi di Kabupaten Gowa semakin menjadi sorotan. Bukan hanya karena korban kehilangan nyawa, tetapi karena keluarga mempertanyakan serius penanganan perkara oleh pihak kepolisian. Keluarga korban membantah keras pernyataan yang menyebut telah terjadi perdamaian antara keluarga korban dan pihak pelaku. Menurut keluarga, tidak pernah ada perdamaian sebagaimana yang disampaikan Kasat Lantas Polresta Gowa. Bantahan tersebut disampaikan keluarga melalui video yang beredar pada Senin, 7 September 2026. Keluarga meminta agar proses hukum terhadap pihak yang diduga bertanggung jawab tetap berjalan secara transparan. Persoalan kemudian semakin panas setelah Kasat Lantas Polresta Gowa disebut mendatangi kediaman keluarga korban. Dalam pertemuan tersebut, anak korban mengaku diminta agar tidak lagi membuat video atau menyampaikan persoalan kasus tersebut melalui media sosial. «“Kasat Lantas mendatangi rumah saya dan meminta agar tidak membuat video lagi, namun saya juga meminta agar pelaku ditangkap.”» Pernyataan tersebut menambah tanda tanya publik. Jika benar tidak pernah ada perdamaian, atas dasar apa narasi perdamaian tersebut disampaikan kepada publik? Keluarga korban juga mempertanyakan mengapa pihak yang diduga terlibat dalam kecelakaan maut tersebut disebut tidak ditahan dan kendaraan yang terlibat juga dipersoalkan karena diduga tidak diamankan sebagaimana yang diharapkan keluarga. Kini publik menunggu penjelasan yang lebih terbuka dari kepolisian. Siapa sebenarnya yang menyatakan adanya perdamaian? Mengapa keluarga korban justru membantahnya? Mengapa anak korban mengaku diminta berhenti menyuarakan kasus tersebut? Dan apakah seluruh prosedur penanganan perkara telah dijalankan secara transparan? Pertanyaan-pertanyaan itu kini menjadi sorotan. Keluarga korban menegaskan tidak ingin kasus kematian Mustafa Daeng Ngasi berhenti hanya karena munculnya narasi perdamaian yang mereka bantah. Mereka meminta kepastian hukum, transparansi penyidikan, serta perlakuan yang adil tanpa keberpihakan kepada siapa pun. Hingga berita ini diterbitkan, berbagai dugaan dan pernyataan tersebut masih perlu diklarifikasi secara resmi oleh pihak-pihak terkait. IntelijenNews.com mengedepankan asas praduga tak bersalah dan membuka ruang hak jawab bagi pihak kepolisian maupun pihak yang disebut dalam pemberitaan ini.

GOWA, IntelijenNews.com — Kasus kecelakaan lalu lintas yang menewaskan Mustafa Daeng Ngasi di Kabupaten Gowa semakin menjadi sorotan. Bukan hanya karena korban kehilangan nyawa, tetapi karena keluarga mempertanyakan serius penanganan perkara oleh pihak kepolisian.

‎Keluarga korban membantah keras pernyataan yang menyebut telah terjadi perdamaian antara keluarga korban dan pihak pelaku. Menurut keluarga, tidak pernah ada perdamaian sebagaimana yang disampaikan Kasat Lantas Polresta Gowa.

‎Bantahan tersebut disampaikan keluarga melalui video yang beredar pada Senin, 7 September 2026. Keluarga meminta agar proses hukum terhadap pihak yang diduga bertanggung jawab tetap berjalan secara transparan.

‎Persoalan kemudian semakin panas setelah Kasat Lantas Polresta Gowa disebut mendatangi kediaman keluarga korban. Dalam pertemuan tersebut, anak korban mengaku diminta agar tidak lagi membuat video atau menyampaikan persoalan kasus tersebut melalui media sosial.

‎«“Kasat Lantas mendatangi rumah saya dan meminta agar tidak membuat video lagi, namun saya juga meminta agar pelaku ditangkap.”»

‎Pernyataan tersebut menambah tanda tanya publik. Jika benar tidak pernah ada perdamaian, atas dasar apa narasi perdamaian tersebut disampaikan kepada publik?

‎Keluarga korban juga mempertanyakan mengapa pihak yang diduga terlibat dalam kecelakaan maut tersebut disebut tidak ditahan dan kendaraan yang terlibat juga dipersoalkan karena diduga tidak diamankan sebagaimana yang diharapkan keluarga.

‎Kini publik menunggu penjelasan yang lebih terbuka dari kepolisian.

‎Siapa sebenarnya yang menyatakan adanya perdamaian? Mengapa keluarga korban justru membantahnya? Mengapa anak korban mengaku diminta berhenti menyuarakan kasus tersebut? Dan apakah seluruh prosedur penanganan perkara telah dijalankan secara transparan?

‎Pertanyaan-pertanyaan itu kini menjadi sorotan.

‎Keluarga korban menegaskan tidak ingin kasus kematian Mustafa Daeng Ngasi berhenti hanya karena munculnya narasi perdamaian yang mereka bantah. Mereka meminta kepastian hukum, transparansi penyidikan, serta perlakuan yang adil tanpa keberpihakan kepada siapa pun.

‎Hingga berita ini diterbitkan, berbagai dugaan dan pernyataan tersebut masih perlu diklarifikasi secara resmi oleh pihak-pihak terkait.

‎IntelijenNews.com mengedepankan asas praduga tak bersalah dan membuka ruang hak jawab bagi pihak kepolisian maupun pihak yang disebut dalam pemberitaan ini.

‎( Tim Redaksi )

Tinggalkan Balasan