Makassar,Intelijen News — Antrean panjang pengisian BBM bersubsidi kembali memunculkan persoalan serius. Kali ini, perselisihan antarsopir truk di salah satu SPBU di Jalan Perintis Kemerdekaan, tepatnya di depan Kampus Cokroaminoto Makassar, berujung pada aksi penikaman yang menyebabkan seorang sopir truk harus dilarikan ke rumah sakit,jumat ( 11/09/26 ).
Korban diketahui bernama Aswandi (30), warga Dusun Taroada, Kecamatan Turikale, Kabupaten Maros. Ia mengalami luka akibat tikaman di bagian dada sebelah kanan bawah dan kemudian mendapat penanganan medis di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, terduga pelaku bernama Muh. Hendra alias Dg. Se’re (31), seorang sopir truk asal Buttadidi, Kelurahan Mawang, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa.
Peristiwa tersebut diduga bermula dari persoalan antrean pengisian solar. Muh. Hendra disebut telah berada di lokasi dan mengantre BBM jenis solar sejak sekitar pukul 02.30 WITA. Setelah menunggu kurang lebih tujuh jam, sekitar pukul 09.44 WITA, giliran pengisian akhirnya tiba.
Namun situasi kemudian memanas ketika korban disebut masuk ke jalur pengisian yang sebelumnya menjadi giliran kendaraan terduga pelaku.
Korban disebut beralasan hendak mengisi Solar Dex. Meski telah diminta untuk memindahkan kendaraannya, korban disebut tetap memajukan truknya ke area pompa pengisian kendaraan besar.
Perselisihan yang awalnya berkaitan dengan persoalan antrean tersebut kemudian diduga berkembang menjadi keributan hingga terjadi aksi penikaman menggunakan badik.
Akibat kejadian itu, Aswandi mengalami luka tikam dan harus mendapatkan perawatan medis.
ANTREAN BBM KEMBALI DIPERTANYAKAN
Peristiwa ini bukan sekadar persoalan pertengkaran dua sopir. Insiden tersebut kembali membuka pertanyaan lebih besar mengenai pengelolaan dan pengaturan antrean BBM bersubsidi, khususnya solar, yang selama ini kerap menjadi sumber ketegangan di sejumlah SPBU.
Ketika masyarakat harus mengantre berjam-jam sejak dini hari hanya untuk mendapatkan BBM, potensi gesekan di lapangan tentu semakin besar. Apalagi ketika sistem antrean tidak mampu memberikan kepastian, ketertiban, dan rasa adil bagi para pengguna.
Pertanyaannya kemudian: siapa yang bertanggung jawab memastikan antrean BBM berjalan tertib dan aman?
Jangan sampai masyarakat dibiarkan berhadapan sendiri dengan persoalan antrean panjang, sementara konflik baru ditangani setelah terjadi insiden yang menimbulkan korban.
Sejumlah sopir truk yang berada di lokasi juga mengaku mengenali terduga pelaku sebagai pekerja pada perusahaan jasa logistik B-LOG. Namun informasi tersebut masih perlu dikonfirmasi kepada pihak perusahaan maupun aparat penegak hukum.
Kasus ini diharapkan dapat diusut secara profesional dan transparan, termasuk mengungkap secara utuh kronologi kejadian, pemicu perselisihan, serta memastikan proses hukum berjalan sesuai ketentuan.
Antrean BBM seharusnya tidak berubah menjadi arena konflik. Jangan menunggu jatuhnya korban berikutnya baru persoalan tata kelola antrean kembali dibenahi.
Redaksi IntelijenNews masih membuka ruang konfirmasi dan klarifikasi kepada pihak SPBU, perusahaan terkait, Pertamina, maupun aparat kepolisian mengenai kejadian tersebut.
( Tim Redaksi )