INTELIJENNEWS, ACEH BARAT —
Kondisi fasilitas pelayanan kesehatan di RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh kembali menjadi sorotan publik setelah plafon ruang rawat inap pasien jebol akibat kebocoran atap. Insiden ini terjadi saat hujan deras mengguyur Kabupaten Aceh Barat pada Jumat sore (17/10/2025), menyebabkan genangan air di salah satu ruangan yang baru dibangun pada tahun 2022.
Pantauan langsung tim IntelijenNews menunjukkan situasi yang memprihatinkan. Pasien terganggu kenyamanannya, bahkan terancam keselamatannya. Kejadian ini dinilai sebagai bentuk kelalaian manajemen RSUD dalam pengawasan dan pemeliharaan fasilitas vital. Masyarakat mendesak agar pemerintah daerah segera mengambil tindakan konkret dan menyeluruh untuk mencegah insiden serupa terulang.
Ketua DPRK Aceh Barat: Direktur RSUD Harus Bertanggung Jawab.
Ketua DPRK Aceh Barat, Hj. Siti Ramazan, SE, mengecam keras insiden tersebut. Ia menilai jebolnya plafon sebagai bukti lemahnya pengawasan dan meminta Direktur RSUD bertanggung jawab penuh.
“Tidak seharusnya plafon ruang pasien bisa jebol begitu saja. Awalnya mungkin hanya bocor kecil, tapi karena tidak ditangani, akhirnya rusak parah,” tegasnya.
Siti juga mempertanyakan efektivitas penggunaan anggaran rehabilitasi rumah sakit yang dialokasikan melalui APBK.
“Anggaran rehab rumah sakit itu ada, tapi kenapa kondisi seperti ini bisa terjadi? Jangan sampai masyarakat yang dirugikan,” ujarnya.
Ia mendesak pemerintah daerah melalui dinas terkait untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sarana dan prasarana RSUD.
“Keselamatan pasien adalah hal utama. Jangan tunggu sampai ada korban baru bertindak,” tambahnya.
Komisi I DPRK: Audit Investigasi Harus Dilakukan.
Ketua Komisi I DPRK Aceh Barat, Ramli SE, menyoroti pembangunan gedung yang dibiayai APBK Tahun Anggaran 2021 sebesar Rp11 miliar. Ia menyarankan Bupati Aceh Barat untuk meminta BPKP Aceh melakukan audit investigasi.
“Kita sarankan bupati agar meminta BPKP melakukan audit investigasi. Kita duga ada masalah dalam pembangunan gedung ini,” katanya.
Ramli menduga kebocoran disebabkan oleh spesifikasi bangunan yang tidak sesuai, terutama pada pipa saluran air yang ditanam dalam tiang bangunan.
“Saya menduga pipa air dari lantai tiga tidak sesuai standar, sehingga pecah dan menyebabkan rembesan air,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pembangunan gedung tersebut bukan dilakukan pada masa kepemimpinan Bupati Tarmizi, namun jika tidak ditindaklanjuti, isu miring bisa menyasar kepala daerah yang baru.
Bupati Aceh Barat Turun Langsung ke Lokasi.
Bupati Aceh Barat, Tarmizi, SP, MM, langsung meninjau RSUD Cut Nyak Dhien pada Jumat malam setelah menerima laporan warga. Ia memeriksa kondisi ruangan dan berdialog dengan pihak rumah sakit.
“Saya ingin tahu, bagaimana kondisi pasien, apakah sudah dipindahkan atau masih di ruangan itu? Saat bocor dan plafon jebol, apakah pasien juga terkena air?” tanya Bupati.
Tarmizi menegaskan agar pihak rumah sakit segera melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh saluran air.
“Besok saya minta bagian teknis naik ke atas, periksa semua saluran air. Cari penyebabnya malam ini juga,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa kejadian ini harus menjadi pelajaran penting agar pemeliharaan rutin dilakukan secara sigap dan menyeluruh.
“Rumah sakit adalah tempat masyarakat mencari kesembuhan. Jadi keamanan dan kenyamanan pasien harus menjadi prioritas utama,” ujarnya.
Masyarakat Aceh Barat berharap agar pemerintah daerah bertindak tegas dan melakukan evaluasi menyeluruh demi menjamin keselamatan pasien serta mengembalikan kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan daerah.
Tim Intelijennews.