Jeritan Sunyi Petugas Kebersihan Biringkanaya: Bekerja Sepenuh Hati, Upah Tak Kunjung Dibayar

 

INTELIJENNEWS, Makassar, 22 Agustus 2025 — Di balik bersih dan teraturnya lingkungan Biringkanaya, tersimpan kisah pilu para petugas kebersihan yang hingga kini belum menerima hak mereka. Sejak bulan Juni lalu, upah yang menjadi penopang hidup keluarga mereka tak kunjung dibayarkan.

 

“Setiap hari kami dituntut bekerja profesional, menjaga kebersihan kota agar masyarakat nyaman. Tapi di sisi lain, hak kami justru terabaikan. Kami juga manusia, punya keluarga, pagi siang malam butuh makan,” keluh salah satu petugas dengan suara bergetar.

 

Keluhan ini bukan tanpa alasan. Upah yang seharusnya diterima setiap bulan kini macet hingga lebih dari dua bulan. Terakhir kali mereka menerima gaji pada bulan Juni, setelah itu tak ada lagi kejelasan. Sementara kewajiban tetap berjalan, dari menyapu jalan, mengangkut sampah, hingga merapikan lingkungan.

 

Meski berada dalam situasi sulit, mereka tetap berusaha menjalankan tugas dengan profesional. “Kami tetap bekerja sesuai tanggung jawab, meski hati kami menjerit. Malam kami gunakan untuk kerja serabutan, sekadar membawa pulang sedikit rezeki agar anak istri bisa makan,” tambah seorang petugas lain yang enggan disebutkan namanya.

 

Di sisi lain, aturan soal kebersihan dan kesehatan lingkungan sudah jelas termaktub dalam undang-undang dan perda. Namun, ironisnya, mereka yang menjadi ujung tombak pelaksana di lapangan justru merasa dianaktirikan.

 

Publik pun mulai resah melihat kondisi ini. Sebab, tanpa keberadaan petugas kebersihan, wajah Biringkanaya tentu akan berubah. Jalanan yang bersih, taman yang terawat, hingga lingkungan yang nyaman adalah hasil dari kerja keras mereka. Tetapi di balik itu, ada perut yang keroncongan, ada anak-anak yang menunggu kiriman uang sekolah, dan ada keluarga yang menahan sabar menanti kepastian.

 

“Kami hanya berharap masalah ini segera diselesaikan. Jangan biarkan kami terus menunggu dalam ketidakpastian. Pemerintah harus kembali memperhatikan dan membayar upah kami,” tegas mereka penuh harap.

 

Jeritan petugas kebersihan ini seakan menjadi tamparan keras bagi pemerintah setempat. Sebab, di balik senyum warga yang menikmati lingkungan bersih, ada air mata para pekerja yang mengais rezeki tanpa kepastian gaji. Mereka tetap bekerja, tapi hak mereka masih tertahan.

 

Kini bola ada di tangan pemerintah: akankah jeritan ini hanya menjadi suara sunyi yang terabaikan, atau justru menjadi titik balik untuk menegakkan keadilan bagi para pahlawan kebersihan

 

Penulis : Yusuf

Tinggalkan Balasan