Ketika Tangan Tak Lagi Terulur, dan Kamera Menjadi Pilihan: Potret Pilu Pudarnya Kepedulian Sesama

 

IntelijenNews.Com, Makassar – Di tengah kemajuan teknologi yang semakin pesat, ada satu hal yang perlahan dikhawatirkan mulai memudar: rasa kemanusiaan.

Sebuah ilustrasi yang beredar di media sosial menggambarkan perbedaan yang begitu menyentuh antara masa lalu dan masa kini.

Dulu, ketika seseorang berjuang melawan maut di tengah derasnya ombak, tangan-tangan segera terulur untuk memberikan pertolongan.

Nyawa menjadi prioritas utama, sementara kepedulian dan empati menjadi naluri yang hidup di tengah masyarakat.

Namun kini, pemandangan yang berbeda sering kali terlihat.

Saat seseorang berada dalam situasi darurat, tidak sedikit yang memilih mengangkat telepon genggam, merekam, memotret, lalu membagikannya ke media sosial.

Di saat korban berharap ada yang menolong, yang datang justru sorotan kamera.

Fenomena ini menjadi ironi yang menyakitkan. Di era yang serba terhubung, manusia justru berisiko semakin jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.

Rasa iba terkadang kalah oleh keinginan untuk mendapatkan perhatian, tayangan, atau sekadar menjadi yang pertama mengunggah sebuah peristiwa.

Banyak pihak mengingatkan bahwa dokumentasi memang penting, tetapi menyelamatkan nyawa jauh lebih penting.

Sebab, tidak ada jumlah tayangan, komentar, ataupun tanda suka yang mampu menggantikan satu nyawa yang hilang karena terlambat mendapat pertolongan.

Ilustrasi tersebut bukan sekadar gambar, melainkan sebuah cermin bagi masyarakat.

Sebuah pengingat bahwa di balik kecanggihan teknologi, manusia tidak boleh kehilangan hati nuraninya.

Sungguh menyedihkan ketika seseorang yang sedang meminta pertolongan hanya mendapatkan sorotan kamera, padahal yang paling ia butuhkan adalah uluran tangan.

Tim Redaksi RJ

Tinggalkan Balasan