INTELIJENNEWS, Desa Barugae, Bulukumba — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Ketahanan Pangan dan Pencegahan Stunting telah melaksanakan kegiatan sosialisasi pencegahan stunting di Desa Barugae, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba. Kegiatan ini merupakan respons atas temuan awal kasus gangguan pertumbuhan anak yang diduga terkait stunting di desa tersebut, sekaligus upaya menyinergikan pengetahuan medis dengan nilai-nilai budaya setempat.
Sehingga materi edukasi yang disampaikan dalam kegiatan sosialisasi ini disusun berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan selama beberapa minggu dengan warga, khususnya perawat desa dan puskesmas
Temuan lapangan menunjukkan bahwa masih terdapat kepercayaan lokal (pamali) yang memengaruhi pola konsumsi ibu hamil. Salah satu kepercayaan yang cukup kuat adalah larangan mengonsumsi daun kelor selama kehamilan. Masyarakat setempat meyakini bahwa mengonsumsi kelor dapat menyebabkan bayi lahir dengan kepala besar, yang dianggap dapat menyulitkan proses persalinan.
Dalam penjelasan yang disampaikan kepada warga, mahasiswa menjelaskan bahwa secara medis, kelor justru memiliki kandungan gizi yang sangat tinggi, seperti zat besi, kalsium, dan vitamin A, yang sangat dibutuhkan oleh ibu hamil untuk mencegah anemia serta mendukung pertumbuhan janin yang sehat.
Oleh karena itu, informasi ini perlu diluruskan agar masyarakat tidak kehilangan sumber pangan bergizi yang mudah dijangkau.
Menariknya, Desa Barugae sebenarnya memiliki potensi ketahanan pangan yang baik. Hal ini terlihat dari beberapa rumah warga yang menanam pohon kelor di pekarangan mereka. Selain kelor, juga ditemukan tanaman pangan bergizi lainnya seperti pepaya, alpukat, dan singkong yang tumbuh di sekitar rumah warga. Sayangnya, potensi ini belum dimanfaatkan secara optimal, terutama dalam pemenuhan gizi bagi ibu hamil dan balita. Padahal, keempat jenis tanaman tersebut mengandung nutrisi penting yang sangat dibutuhkan untuk mendukung tumbuh kembang anak serta kesehatan ibu selama masa kehamilan.
Sebagai bentuk pemanfaatan sumber daya lokal ini, dalam kegiatan sosialisasi turut dibagikan resep sederhana yang berbahan dasar kelor, pepaya, alpukat, dan singkong. Resep-resep ini dirancang agar mudah diolah oleh masyarakat dan disesuaikan dengan cita rasa lokal. Tujuannya adalah memberikan alternatif menu sehat yang murah, bergizi, dan berbasis bahan pangan lokal sebagai langkah konkret dalam upaya pencegahan stunting. Dengan pendekatan ini, masyarakat diharapkan dapat lebih termotivasi untuk memanfaatkan tanaman yang ada di sekitarnya sebagai sumber gizi keluarga.
Dengan mengedepankan pendekatan antropologis, kegiatan ini diharapkan dapat menjembatani antara pengetahuan lokal dan pengetahuan ilmiah, sehingga upaya pencegahan stunting menjadi lebih efektif dan diterima secara budaya. Mahasiswa juga mendorong pemanfaatan tanaman kelor yang sudah ada di lingkungan warga sebagai langkah sederhana namun bermakna dalam meningkatkan ketahanan pangan keluarga.
Kegiatan ini menjadi bukti kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung program nasional percepatan penurunan stunting melalui pemahaman kontekstual yang berakar dari budaya dan realitas sosial masyarakat desa.
Syam alle