INTELIJENNEWS, Manggarai Timur : BORONG, – Setiap pagi, belasan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Satap Benteng Sipi asal Dusun Baja, Desa Benteng Pau, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), harus mempertaruhkan keselamatan demi menuntut ilmu.
Sekolah mereka terletak di Kampung Nio, Desa Golo Wuas, sekitar empat kilometer dari rumah. Perjalanan menuju sekolah bukan sekadar melelahkan, tetapi juga berbahaya. Mereka harus menyeberangi Sungai Wae Pekas, yang menjadi satu-satunya jalur penghubung, dengan ketinggian air rata-rata 30 sentimeter.
Bila musim hujan tiba, situasi menjadi jauh lebih mengkhawatirkan. Arus sungai menguat, ketinggian air bisa mencapai tiga meter, dan tak jarang memutus total akses menuju sekolah.
“Kalau sudah banjir besar, kami tidak berani lewat. Lebih baik libur saja di rumah,” kata Denis (15), siswa kelas IX asal Dusun Baja, Sabtu (13/8/2025).
Denis menuturkan, ia dan teman-temannya selalu berangkat pagi-pagi buta dengan berjalan kaki. Setiba di tepi sungai, mereka mengganti seragam sekolah dengan pakaian biasa agar tidak basah.
“Kami dari rumah tidak pakai sepatu, pakai baju biasa dulu. Kalau sudah seberang baru ganti seragam sekolah,” ujarnya.
Namun, rasa was-was tak pernah hilang, apalagi saat hujan deras.
“Kadang airnya deras sekali. Kalau nekat, takut hanyut. Tapi kalau tidak ke sekolah, kami ketinggalan pelajaran,” tambah Denis.
Ketiadaan jembatan menjadi masalah utama yang dihadapi warga. Antonius Dion, warga Dusun Baja, mengakui kondisi ini sudah mereka alami puluhan tahun.
“Setiap musim hujan, anak-anak sering tidak sekolah karena terlalu berbahaya menyeberang sungai,” ungkapnya.
Tak hanya pendidikan yang terganggu, perekonomian warga pun terdampak. Sebagian besar penduduk bekerja sebagai petani, dan saat banjir mereka tidak bisa menuju kebun di seberang sungai.
Sebagai solusi sementara, warga setiap tahun bergotong royong membangun jembatan darurat dari bambu. Namun, usia jembatan sederhana ini tak pernah lama, apalagi jika dihantam banjir besar. “Setiap tahun kami bangun lagi. Ini sudah nasib kami puluhan tahun,” kata Antonius.
Warga berharap pemerintah daerah, provinsi, hingga pusat segera membangun jembatan permanen. Harapan mereka sederhana: anak-anak bisa bersekolah tanpa rasa takut, dan roda perekonomian desa tetap berjalan tanpa hambatan setiap musim hujan. **
Usman Alis