Opini: Smart Farming Tenaga Surya, Solusi Nyata yang Perlu Diperluas di Jeneponto

Opini: Smart Farming Tenaga Surya, Solusi Nyata yang Perlu Diperluas di Jeneponto

JENEPONTO, Intelijennews.com – Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) berbasis teknologi tepat guna yang saat ini tengah dilaksanakan di Desa Bontorea, Kabupaten Jeneponto, telah mencapai 80 persen. Inovasi berupa smart farming berbasis Internet of Things (IoT) dengan tenaga surya ini tidak hanya menghadirkan efisiensi penyiraman tanaman cabai kecil, tetapi juga membuka mata bahwa pertanian Jeneponto membutuhkan langkah nyata, bukan sekadar wacana. Rabu, 24/09/2025.

 

Sistem ini memanfaatkan panel surya berkapasitas 550 WP untuk menyuplai pompa celup 350 watt. Air hujan ditampung, kemudian dialirkan ke lahan melalui sistem irigasi otomatis berbasis sensor kelembaban tanah. Seluruh perangkat, termasuk weather station untuk memantau cuaca, telah dipasang pada 20–21 September 2025 dan berjalan baik.

 

Ketua pelaksana program, Muliaty Yantahin, S.T., M.T., menegaskan bahwa teknologi ini menjadi jawaban konkret bagi petani yang selama ini menghadapi krisis air.

 

“Kami ingin memastikan petani bisa lebih mandiri. Jangan lagi bergantung pada irigasi konvensional yang boros. Dengan sistem ini, air digunakan secara tepat, produktivitas cabai meningkat, dan kesejahteraan petani bisa naik,” tegasnya.

 

Pelaku bisnis agribisnis lokal, H. Basri, menilai teknologi ini harus segera diperluas agar dampaknya terasa lebih luas.

 

“Petani sudah membuktikan mampu beradaptasi dengan teknologi. Jadi tidak ada alasan lagi untuk ragu. Kalau produktivitas naik, rantai pasok lebih terjamin, harga lebih stabil, dan dunia usaha bisa lebih kuat. Ini saatnya pemerintah daerah mendukung, bukan hanya menonton,” ujarnya kritis.

 

Meski program ini didanai oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Dikti, pertanyaan yang muncul adalah: apakah pemerintah daerah siap melanjutkan dan memperluas model ini ke desa-desa lain? Tanpa dukungan kebijakan dan anggaran lokal, inovasi ini berisiko berhenti sebagai proyek percontohan semata.

 

Opini publik jelas: smart farming tenaga surya adalah solusi nyata bagi krisis pertanian di Jeneponto. Namun solusi ini akan sia-sia jika hanya berdiri di Bontorea. Pemerintah daerah harus berani menjadikannya program strategis, pelaku bisnis harus siap bermitra, dan petani harus terus didampingi agar tidak tertinggal.

Pertanian Jeneponto sudah lama dikenal tangguh, tapi ketangguhan saja tidak cukup. Di tengah krisis iklim dan keterbatasan air, inovasi adalah harga mati. Smart farming berbasis IoT dan tenaga surya adalah bukti bahwa perubahan bisa dimulai dari desa.

 

Kini tinggal satu pertanyaan besar: apakah pemerintah daerah siap menjadikan teknologi ini sebagai kebijakan permanen, atau hanya membiarkannya menjadi sekadar proyek sementara.(rusdi/red)

Tinggalkan Balasan