PEMDA DAN DPRD, JANGAN HANYA JADI PANITIA PELAKSANA

PEMDA DAN DPRD, JANGAN HANYA JADI PANITIA PELAKSANA

Tanimbar, Maluku.Intelijennews.com

_Suara Asli Anak Negeri Tanimbar_

Oleh : _Seorang Anak Tanimbar, Cucu Pemilik Tanah_

Saumlaki, 8 Juni 2026

Bapa, Ibu, dengarkan suara ini. Ini bukan suara orang marah semata, tapi suara orang yang sedih, orang yang kecewa, dan orang yang mau selamatkan nasib anak cucu di tanah ini.

Bapa Bupati, Bapa Ketua Dewan, Bapa Sekda, Ibu Kepala Dinas, sama semua Bapa Ibu Pejabat yang duduk di kursi panas pemerintahan ini. Beta sapa kamu semua dengan hormat. Beta ini anak negeri ini. Beta lahir di sini, tumbuh di sini, keringat beta jatuh di tanah ini, dan nanti tulang beta pun akan beristirahat di tanah ini.

Hari ini beta bicara pakai bahasa kita sendiri, bahasa yang masuk ke dalam kuping, sampai turun ke dalam hati, dan sampai ke dalam nyawa.

Selama empat belas tahun ini, kita dengar nama Masela bergema dari timur sampai ke barat. Tapi Bapa Ibu tahu apa yang beta lihat selama empat belas tahun itu? Beta lihat Pemerintah Daerah kita, Dewan kita, pemimpin kita, terus saja jadi Panitia.

Panitia pas tamu datang dari Jakarta. Panitia pas tamu datang dari luar negeri. Panitia pas mau pasang tenda. Panitia par cuma jadi moderator rapat dengan tim. Panitia par cuma redamkan perbedaan pendapat. Panitia pas mau siapkan makan minum. Panitia pas mau berbaris untuk poto bareng-bareng, senyum manis di depan kamera.

Poto sudah jadi. Tamu sudah pulang. Tamu sudah terbang tinggi naik pesawat balik ke tempat nyaman mereka. Dan kita, kita yang tinggal di sini, tinggal dengan empat luka besar yang belum ada obatnya.

Hari ini beta bertanya pakai mulut beta sendiri, pakai hati beta sendiri. Bapa Ibu, kalau empat hal ini kalian diamkan saja, kalau empat hal ini kalian biarkan lewat begitu saja, lalu untuk apa kalian duduk di kursi itu? Kalian dipilih oleh suara kami. Kalian diangkat oleh tangan kami. Jangan sampai kalian turun dari kursi itu nanti, dengan tangan kosong, dan sejarah menulis, Mereka datang sebagai pemimpin, tapi pulang sebagai orang yang menjual hak negeri ini.

Dengar Bapa Ibu. Ada satu hal yang paling perih di hati kami, sebelum kita masuk ke hal lain.

DOLO, DOLO KALIAN SUARA KERAS SEKARANG. HARI INI, DIAM.

Masih segar di kuping beta. Masih terngiang-ngiang di telinga seluruh orang Tanimbar. Dulu waktu kalian belum duduk di kursi empuk itu. Waktu kalian masih berjuang, waktu kalian masih minta suara rakyat. Kalian teriak kencang. Kalian gedor meja sidang sampai berbunyi ke seantero nusantara. Dengarkan, PI TIGA PERSEN ITU HARGA MATI BAGI TANIMBAR. TIDAK ADA TIGA PERSEN, TIDAK ADA PROYEK. ITU PIRING MAKAN ANAK CUCU KITA SAMPAI TUJUH KETURUNAN.

Bapa Ketua Dewan. Bapa anggota Dewan. Di mana suara itu sekarang? Kenapa hari ini mulut itu tertutup rapat? Kenapa hari ini kalian diam saja saat orang luar mau mainkan angka tiga persen ini seenak jidat mereka? Dulu kalian berani mati demi ini. Hari ini, apakah kalian berani mati demi ini juga? Atau, apakah kursi ini sudah terlalu empuk sampai lupa sama perjuangan dulu?

Beta ingatkan ini supaya darah kalian mendidih lagi. Jangan biarkan sejarah mencatat, Bahwa para Pejuang Tanimbar dulu berdarah-darah, teriak sampai serak demi tiga persen. Tapi hari ini, justru kamu yang duduk di atas kuasa inilah yang matikan hak itu dengan kesunyianmu.

Nah, sekarang beta bedah empat urusan besar, pakai bahasa dalam-dalam, supaya kamu semua paham. Kalau ini gagal, Masela bukan jalan ke surga. Tapi Masela adalah kuburan bagi harapan kita.

1. PI 3 PERSEN: PIRING MAKAN KITA, JANGAN BIARKAN TETAP KOSONG

Orang tua kami, Nenek Moyang kami, dulu pesan begini sambil pegang dada. Anakku, nanti kalau kilang gas itu berdiri di tanah kita. Ingat, ingat betul, Kita dapat Bagian Tiga Persen. Itu bukan sedekah. Itu Hak kita, sebab gas itu keluar dari perut bumi milik kita.

Kami anak-anak waktu itu mendengar, lalu kami tidur nyenyak. Kami percaya. Kami pikir, nanti hidup kami bagus. Tapi apa yang terjadi sekarang?

SKK Migas sama Inpex datang, senyum manis, lalu bilang begini. Iya Bapak, kalian dapat Tiga Persen. Tapi uangnya banyak sekali, sepuluh koma dua triliun rupiah. Pemerintah Daerah kan tidak punya uang untuk bayar porsi ini. Jadi kami yang pinjamkan. Nanti kalian bayar balik sama kami, kami kasih bunga dua belas persen setiap tahun.

Bapa Bupati, Bapa yang mengerti uang. Dengar hitungan beta yang sederhana ini. Kalau kita pinjam uang sepuluh triliun, lalu kita bayar bunga dua belas persen setahun. Kapan uangnya habis dibayar? Tahun dua ribu empat puluh enam. Artinya, dalam dua puluh tahun pertama masyarakat Tanimbar kelaparan. Pabrik jalan, gas keluar, kapal pergi datang. Tapi uang hasil Tiga Persen itu, semua masuk kantong Inpex untuk bayar utang. Kita cuma dapat gelar pemilik di atas kertas saja.

Bapa, ini namanya apa? Ini namanya perampokan yang dikelabuhi hukum. Ini sama saja, Orang ambil ayam kita, lalu orang itu bilang, Ayam ini mau kamu ambil balik? Boleh. Tapi kamu bayar saya sewa kandang selama dua puluh tahun.

Peringatan Berat Dari Anak Negeri. Bapa Ibu, jangan jadi Panitia yang cuma catat, Rapat selesai, peserta pulang. Kamu adalah Pemilik. Kamu gedor meja itu sampai pecah, bilang begini. Kami mau Skema Tanpa Bunga. Inpex tanggung Semua biaya. Baru kami bayar balik setelah kami dapat untung. Ini Hak kami di Undang Undang Nomor dua puluh dua Tahun dua ribu satu Pasal enam Ayat dua. Kami minta Perjanjian Tertulis Hitam Di Atas Putih Bulan Ini Juga.

Kalau kamu diam lihat hak ini dipelintir. Bapa Ibu, kamu sudah mengkhianati perut anak cucu Tanimbar. Piring makan itu akan kosong sampai rambut cucu kami memutih.

2. TENAGA KERJA: ANAK TANIMBAR JANGAN JADI PENONTON DI HALAMAN SENDIRI

Setiap rapat, kalimat ini selalu keluar dari mulut tamu. Bapak tenang saja, Kami Sangat Komitmen Pada SDM Lokal. Kami akan prioritaskan anak daerah.

Ah Bapa, beta mau minta menangis. Itu semua bohong besar. Beta sudah lihat di tempat lain. Beta sudah tahu mainnya begini.

Sistemnya begini. Satu, Kontrak Besar diberi ke orang luar atau asing. Dua, Orang luar itu bagi-bagi kerjaan ke konglomerat di Jakarta. Tiga, Orang Jakarta bagi-bagi lagi. Sisa-sisanya baru dikasih ke orang Tanimbar.

Dan kerjaan apa yang dikasih ke kita? Menjaga gerbang. Menyapu lantai. Angkat beban berat. Sementara yang pegang mesin, yang atur uang, yang jadi mandor besar, semua wajah asing.

Anak-anak kita di Saumlaki, Fordata, Yamdena, Selaru dan Wermakatian, serta Molo Maru. Mereka sekolah di SMK. Mereka belajar las, belajar mesin, belajar bangunan. Ijazah mereka digulung rapi di dalam saku. Mereka datang melamar, dijawab, Tunggu panggilan. Panggilan itu tidak pernah datang.

Peringatan Berat Dari Anak Negeri. Bapa Kepala Dinas Tenaga Kerja. Bangunlah Bapa. Jangan tidur lagi. Buat Peraturan Bupati hari ini juga, tulis tegas-tegas. Setiap Perusahaan yang jalan usaha di Tanah Tanimbar ini, Wajib Serahkan Daftar Kebutuhan Kerja Ke Dinas Tenaga Kerja. Tujuh Puluh Persen Pekerja Wajib Pemegang KTP Tanimbar. Kalau ada yang langgar? Denda sepuluh kali lipat. Cabut izin usahanya.

Dan satu lagi yang paling sakit, Urusan Jasa. Katering, angkutan, keamanan, bangunan kecil. Ini Hak kita. Peraturan Menteri ESDM Nomor empat belas Tahun dua ribu dua puluh lima bilang begitu. Tapi mereka hapus pasal itu di kontrak. Bapa, kamu harus potong rantai itu. Bilang sama mereka. Jangan bawa makelar Jakarta ke sini. Makanan pekerja itu masakan Ibu-Ibu Tanimbar. Sopir truk itu anak-anak kita. Kalau tidak mau, pulang saja.

Kalau kamu diam lihat ini terjadi. Artinya kamu biarkan anak-anak kita jadi orang asing di tanah kelahiran sendiri.

3. DANA 2 PERSEN: ITU DUIT KITA, JANGAN BIARKAN ORANG LAIN YANG ATUR

Dengar Bapa Ibu. Beta mau bersihkan noda yang mereka tanam di kepala kita. Banyak orang bilang, Wah bagus, Inpex mau kasih CSR Dua Persen, itu hati mulia mereka.

Itu tidak benar. Itu dusta besar.

Dengar ini sampai masuk ke tulang. Dalam Kontrak Bagi Hasil, ada pos namanya Pengembangan Masyarakat. Pos ini masuk dalam Biaya Operasional atau Pemulihan Biaya. Artinya, Uang Ini Diambil Dari Hasil Jual Gas Kita. Ini Uang Negara. Ini Uang Rakyat. Ini Uang Kita Sendiri.

Inpex cuma jadi kurir. Mereka ambil uang itu dulu, lalu mereka balik ke kita sambil senyum. Lihat Bapak, Kami Berikan Sedekah Dua Persen Untuk Kamu. Terima kasih ya, salim tangan dulu.

Bapa, ini namanya apa? Ini sama saja, Seseorang masuk ke rumahmu, ambil dompetmu, ambil uangmu satu juta, lalu dia belikan kamu baju dua ratus ribu, lalu dia minta kamu bilang, Terima Kasih Tuan. Adilkah itu?

Peringatan Berat Dari Anak Negeri. Bapa Kepala BPKAD, Bapa Bupati. Jangan Takut. Ambil kendali itu. Tulis kesepakatan begini. Dana Dua Persen ini, Masuk Langsung Ke Rekening BLUD Pemda KKT. Tidak lewat rekening Inpex. Yang atur programnya, Pemda plus DPRD plus Gereja plus Adat plus Cendekiawan. Seratus Persen Uang Ini Untuk Sekolah Dan Rumah Sakit. Inpex cuma boleh cek buku keuangan, tidak boleh atur kebijakan.

Kalau kamu diam dan biarkan mereka yang pegang uang itu. Artinya kamu menjual martabat negeri ini. Kita jadi pengemis di tanah yang paling kaya gas di dunia.

4. TANAH LERMATANG: JANGAN KUNCI PINTU DULU, BARU TAWAR HARGA

Ini urusan paling darah. Ini urusan nyawa.

Bapa tahu kan? Perda sudah keluar. Lermatang sudah ditetapkan jadi Kawasan Industri. Banyak orang tepuk tangan, Hore, Menang kita.

Bapa, itu bukan kemenangan. Itu jebakan.

Begitu status tanah jadi Zona Industri, hukumnya berubah. Pemerintah bisa pakai Undang Undang Nomor dua Tahun dua ribu dua belas. Artinya, Tanah adat, berubah jadi Tanah Negara. Dan ganti ruginya dihitung pakai NJOP plus tiga puluh persen.

Bapa tahu berapa harga tanah Lermatang sekarang? Lima ribu sampai tujuh ribu rupiah per meter. Ditambah tiga puluh persen, jadi enam koma lima ribu sampai sembilan koma satu ribu. Semurah itu harga darah kita? Harga tanah industri di tempat lain ratusan ribu, bahkan jutaan per meter.

Dan yang paling bikin darah mendidih, Tanah Pengganti atau Plasma Belum Ada. Belum tahu di mana. Belum tahu luas berapa. Nanti yang dikasih, tanah batu? Tanah di ujung dunia?

Ini cara perang mereka. Pertama, Kunci Pintu. Ubah status tanah. Posisi rakyat lemah. Kedua, Baru Nego Harga. Bilang, Ini harga resmi negara. Terima, atau kami Gusur. Inilah Trauma Nustual yang mau mereka ulang di Lermatang.

Peringatan Berat Dari Anak Negeri. Bapa Kepala BAPPEDA, Bapa Sekda. Jangan Jadi Alat Mereka. Kamu harus berdiri jadi Tembok Beton. Kamu harus bilang begini di depan publik. Dengarkan Semua, Selama Harga Ganti Rugi Adat Belum Disetujui Warga Lermatang. Selama Peta Tanah Pengganti Belum Ditandatangani Lembaga Adat. Satu Batang Pun Tidak Boleh Ditebang. Satu Roda Alat Berat Pun Tidak Boleh Masuk.

Kalau kamu diam saja, dan biarkan status tanah dikunci dulu. Bapa Ibu, kamu sama saja menjual tulang belulang leluhur kita. Kamu yang buka pintu, biarkan mereka masuk, lalu kamu ikat tangan kami supaya tidak bisa melawan.

KATA PENUTUP: JANGAN BAYAR UTANG SEJARAH DENGAN SEREMONIAL

Bapa Ibu Pejabat yang kami hormati. Dudukmu di kursi itu hari ini, itu bukan kursi enak. Itu Kursi Utang. Utang sama Kakek Nenek kita yang sudah pergi. Utang sama Anak-anak kita yang masih main kelereng di halaman.

Jangan bayar utang itu dengan Spanduk. Jangan bayar dengan Poto Bersama. Jangan bayar dengan terus jadi Panitia Pelaksana.

Bayarlah utang itu dengan Empat Kepastian Ini.

Pertama, PI Tiga Persen, Skema Tanpa Bunga. Hitam Di Atas Putih.

Kedua, Tenaga Kerja, Putus Rantai Makelar. Hak Ekonomi Ke Kita.

Ketiga, Dana Dua Persen, Masuk Kas Kita. Kita Yang Atur.

Keempat, Tanah, Kesepakatan Adat Sebelum Proyek Mulai.

Kalau kamu rasa kamu tidak kuat lawan mereka. Kalau kamu rasa kamu takut kehilangan jabatan. Katakan Saja Jujur. Turunlah dari kursi itu. Berikan kursi itu ke orang yang punya Nyali.

Karena satu hal yang paling pasti di dunia ini. Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Tidak Boleh Hanya Menjadi Panitia. Pemda harus jadi Bapa, jadi Ibu, jadi Tembok Pelindung kami.

Beta sudah bicara. Sekarang, Giliran Kalian Jawab.

PI itu Piring Makan Cucu-cicit kami. Jangan Biarkan Kosong Karena Kalian Diam.

Tanda Tangan

ANAK TANIMBAR YANG MENUNTUT HAKNYA

 

JCS 

Tinggalkan Balasan