INTELIJENNEWS, ACEH BARAT — Meski panitia Pekan Kebudayaan Aceh Barat (PKAB) 2025 telah menetapkan aturan pemisahan antara penonton laki-laki dan perempuan sebagai bagian dari komitmen terhadap nilai-nilai wisata syariah, realitas di lapangan menunjukkan tantangan serius dalam penerapannya.
Pantauan langsung di lokasi utama perayaan Hari Ulang Tahun Meulaboh ke-437, tepatnya di kawasan depan Lapangan Teuku Umar, memperlihatkan masih banyaknya pengunjung yang bercampur di area tontonan. Padatnya arus masyarakat dari berbagai gampong, kecamatan, bahkan luar daerah Aceh Barat, membuat pengaturan zona terpisah sulit diterapkan secara menyeluruh.
“Kami datang sekeluarga. Kalau dipisahkan, kami tidak bisa bersama. Di sini juga sangat ramai, jadi sulit kalau harus terpisah,” ujar Marta, warga Kecamatan Johan Pahlawan, Minggu malam (12/10).
Sejumlah pengunjung lain menyampaikan hal serupa. Mereka menilai PKAB bukan sekadar ajang pertunjukan budaya, melainkan juga momen rekreasi keluarga yang dinanti setiap tahun. “Kami ke sini mau nonton sambil jalan-jalan dengan anak dan suami. Kalau harus terpisah, anak kami bingung, apalagi yang masih kecil,” ungkap seorang ibu dari Johan Pahlawan.
Menanggapi situasi tersebut, panitia PKAB menyatakan bahwa aturan pemisahan gender tetap diberlakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai Islami dan budaya lokal Aceh Barat. Namun, mereka mengakui bahwa antusiasme masyarakat yang sangat tinggi membuat pengawasan di seluruh titik menjadi tidak optimal.
“Kami telah menyiapkan zona khusus laki-laki dan perempuan. Tapi banyak pengunjung datang dalam rombongan keluarga dan memilih untuk tetap bersama. Petugas keamanan tidak bisa menjangkau semua titik,” ujar perwakilan panitia.
Sebagai bentuk tanggung jawab, panitia berkomitmen untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata letak dan sistem pengawasan penonton demi memastikan kegiatan PKAB berjalan tertib dan sesuai dengan kearifan lokal.
Malam ketiga PKAB 2025, Senin (13/10), menunjukkan perbaikan signifikan. Penataan tempat duduk yang memisahkan laki-laki dan perempuan di depan panggung utama mendapat apresiasi dari masyarakat. Suasana berlangsung tertib, meriah, dan penuh kekhidmatan, dengan penonton menikmati hiburan sambil menjaga adab sesuai norma lokal.
“Bagus sekali panitianya, tetap menjaga aturan syariat. Jadi kami bisa menonton nyaman bersama keluarga tanpa bercampur,” ujar salah satu warga yang hadir.
PKAB 2025 menjadi sorotan publik karena tidak hanya menampilkan keragaman seni, kuliner, dan budaya tradisional Aceh, tetapi juga memperlihatkan komitmen Pemerintah Kabupaten Aceh Barat dalam menyeimbangkan hiburan rakyat dengan nilai religiusitas dan identitas Islami.
Tim Intelijennews.