Potret Pendidikan di Barru: SD Negeri 162 Hanya Terima Dua Murid Baru, Guru Rela Antar-Jemput Demi Masa Depan Anak Bangsa

Potret Pendidikan di Barru: SD Negeri 162 Hanya Terima Dua Murid Baru, Guru Rela Antar-Jemput Demi Masa Depan Anak Bangsa

BARRU,Intelijen News – Di tengah semangat dimulainya tahun ajaran baru 2026/2027, sebuah potret nyata tentang tantangan dunia pendidikan di daerah terpencil terlihat di UPTD SD Negeri 162 Barru, yang berada di Dusun Tangngassoe, Desa Jangan-Jangan, Kecamatan Pujananting, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan,(13/7/2026).

Sekolah dasar yang berada di kawasan perbukitan tersebut hanya menerima dua peserta didik baru untuk kelas I pada tahun ajaran ini.

Jumlah itu menjadi gambaran nyata bagaimana sekolah-sekolah di wilayah terpencil masih berjuang mempertahankan keberlangsungan layanan pendidikan di tengah minimnya jumlah anak usia sekolah dan berbagai keterbatasan akses.

Di balik angka yang sangat kecil itu, tersimpan perjuangan luar biasa para tenaga pendidik.

Demi memastikan setiap anak tetap memperoleh hak atas pendidikan, para guru tidak hanya menunggu calon siswa datang mendaftar, tetapi juga melakukan pendekatan langsung ke masyarakat dengan mendatangi kampung-kampung sekitar untuk mengajak anak-anak bersekolah.

Upaya tersebut membuahkan hasil. Satu murid berhasil direkrut dari Dusun Pangi, sedangkan satu murid lainnya berasal dari Dusun Ammerung, Desa Bacu-Bacu.

Perjuangan para guru pun tidak berhenti setelah proses penerimaan siswa selesai.

Karena keterbatasan akses transportasi, para guru secara bergantian mengantar dan menjemput kedua murid tersebut setiap hari agar mereka tetap dapat mengikuti proses belajar mengajar tanpa hambatan.

Kepala UPTD SD Negeri 162 Barru, Sitti Aminah, mengatakan bahwa komitmen para guru adalah memastikan tidak ada anak yang kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan hanya karena faktor jarak maupun transportasi.

“Kami antar jemput setiap hari,” ujar Sitti Aminah.

Kondisi minimnya jumlah siswa telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir. Saat ini, jumlah seluruh peserta didik dari kelas I hingga kelas VI hanya 11 orang, sehingga rata-rata setiap tingkat hanya dihuni satu hingga tiga siswa.

Guru kelas I, Jusmawati, mengungkapkan bahwa selama mengajar dirinya bahkan pernah mendampingi hanya satu siswa dalam satu kelas. Menurutnya, jumlah terbanyak yang pernah ada di kelas hanyalah tiga orang.

Fenomena ini menjadi cerminan tantangan pendidikan di daerah pelosok yang membutuhkan perhatian lebih dari berbagai pihak.

Selain persoalan akses dan sebaran penduduk, sekolah-sekolah seperti UPTD SD Negeri 162 Barru juga menghadapi tantangan dalam menjaga keberlangsungan proses belajar mengajar di tengah jumlah peserta didik yang terus menurun.

Meski demikian, dedikasi para guru menjadi bukti bahwa pendidikan bukan sekadar aktivitas di ruang kelas, melainkan panggilan untuk memastikan setiap anak Indonesia, di mana pun berada, tetap memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan meraih masa depan yang lebih baik.

( Rahmat jafar )

Tinggalkan Balasan