INTELIJENNEWS, MAKASSAR – Acara penamatan dan perpisahan siswa-siswi digelar di pelataran Sekolah Dasar (SD) Inpres Tidung II Jl. Bonto Daeng Ngirate No.10A, Bonto Makkio, Kec. Rappocini, Kota Makassar
Sebanyak 64 siswa-siswi mengikuti penamatan dan perpisahan di SD Inpres Tidung II Makassar, pada senin (26/5). Kepala Sekolah, Guru serta seluruh orang tua siswa siswi turut hadir.

Dari acara penamatan dan perpisahan tersebut, terlihat Anggota DPRD Kota Makassar H. Irwan Jafar turut hadir di tengah-tengah dari tamu undangan yang hadir
Hadir juga Mantan Kepala Sekolah SD Inpres Tidung II Hj. Sumarni, Mantan Ketua Komite H Nai serta tokoh masyarakat
Baca juga :
Wujudkan Ketahanan Pangan, Polsek Makassar Manfaatkan Teras Belakang
Dalam kesempatan itu, Kepala Sekolah UPT SPF SD Inpres Tidung II, A. Syahriani Syarif mengatakan, terharu dan bangga dengan hadirnya Irwan Jafar di acara penamatan dan perpisahan yang cukup sederhana ini, namun terlihat megah.
Kepala Sekolah berpesan kepada 64 siswa siswi yang lulus untuk senantiasa menjaga nama baik dan martabat sekolah dijenjang Sekolah Menengah Pertama nantinya.
Kepala sekolah mengucapkan, “Selamat bagi siswa yang berprestasi dikelasnya, semoga ditingkatkan”.
“Dan dengan hadirnya H, Irwan Jafar bisa membantu sekolah yang dipimpinnya ini, dalam hal bantuan pembangunan”, harapnya
“Sekolah kami setiap tahun dimusim hujan kebanjiran pak” Ujar kepala sekolah kepada Anggota DPRD kota Makassar H, Irwan Jafar dari Fraksi Partai Nasdem
Ditempat yang sama, H. Irwan Jafar mengatakan, siap memberi bantuan kepada SD Inpres Tidung II.
“Insyaallah saya akan anggarkan di tahun 2026”, tegasnya.
Dirinya mengira kalau sekolah ini sudah mendapat bantuan, dikarenakan dirinya tidak pernah dihubungi oleh pihak sekolah.
“Saya kira sudah dapat bantuan, karena tidak dihubungi” Ujar H. Irwan Jafar kepada Kepala sekolah SD Inpres Tidung II sambil berkelakar
Isak tangis para siswa siswi tidak terbendung, Guru-Guru bahkan Kepala Sekolah dan Orang Tua siswa pun turut meneteskan air mata.
Saat acara pencabutan atribut sekolah dari siswa-siswi oleh guru dan kepala sekolah, siswa-siswi seakan akan tidak relah melepas atribut dan tak ingin meninggalkan sekolah yang selama 6 tahun menuntut ilmu. Mereka saling berpelukan satu sama lain.
(Zhoel)