Kepala Ohoi Jangan Tinggalkan Desa Saat Rakyat Butuh

Kepala Ohoi Jangan Tinggalkan Desa Saat Rakyat Butuh

Maluku.Intelijen.news – Wakil Bupati Maluku Tenggara Charlos Viali Rahantoknam mengingatkan para kepala ohoi agar tidak meninggalkan desa ketika masyarakat membutuhkan kehadiran pemerintah, terutama dalam situasi rawan bencana.

Pesan itu disampaikan Charlos saat membuka Sosialisasi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Rawan Bencana Kabupaten/Kota di Balai Ohoi Rumaat, Kecamatan Kei Kecil Timur, Kamis/9/4/2026

“Kalau bencana terjadi, masyarakat bukan pertama-tama cari Bupati, Wakil Bupati, atau Camat. Mereka cari Kepala Ohoi,” kata Charlos di hadapan peserta sosialisasi.

Menurut dia, kepala ohoi merupakan garda terdepan dalam kondisi darurat. Kehadiran pemimpin desa, ujar dia, bukan sekadar formalitas administratif, melainkan representasi negara di tingkat paling bawah.

Charlos menyinggung kebiasaan sebagian aparat desa yang lebih banyak berada di kota. Ia meminta kepala ohoi tidak menghindari warganya dengan alasan banyak permintaan atau persoalan yang harus dihadapi.

“Kalau ada, bilang ada. Kalau tidak ada, bilang tidak ada. Tapi jangan tinggalkan desa. Itu bukan sikap yang benar sebagai pemimpin,” ujarnya.

Ia menegaskan kegiatan sosialisasi kebencanaan tidak boleh dipandang sebagai agenda seremonial. Menurut dia, pemahaman mitigasi bencana harus dimulai dari aparat desa karena merekalah yang pertama berhadapan dengan masyarakat saat ancaman datang, baik berupa kekeringan, cuaca ekstrem, gelombang pasang, angin kencang, hingga potensi gempa dan tsunami.

“Jangan anggap kegiatan hari ini sia-sia. Ini soal keselamatan. Ini soal pengetahuan untuk mengurangi risiko dan mencegah banyak korban,” kata Charlos.

Selain meminta peserta mengikuti kegiatan hingga tuntas, ia mendorong pemerintah ohoi membangun budaya sadar bencana melalui edukasi warga, kemampuan membaca tanda-tanda alam, serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah kecamatan dan instansi teknis terkait.

Di akhir sambutannya, Charlos menekankan bahwa ketangguhan daerah tak hanya ditentukan oleh infrastruktur fisik.

“Ketangguhan sebuah daerah tidak hanya diukur dari seberapa kuat tembok penahan ombaknya, tetapi dari seberapa kompak warga dan pemerintahnya dalam menghadapi ancaman alam,” ujarnya.

Kegiatan sosialisasi dipusatkan di Balai Ohoi Rumaat dan diikuti unsur pemerintah kecamatan, pejabat ohoi, serta perwakilan sejumlah desa di wilayah Kei Kecil Timur.

 

(JCS)

Tinggalkan Balasan